Error message

Notice: Undefined offset: 1 in counter_get_browser() (line 78 of /home/sloki/user/h63740/sites/dilmil-makassar.go.id/www/sites/all/modules/counter/counter.lib.inc).

HUT TNI KE 73 TAHUN 2018 "PROFESIONALISME TNI UNTUK RAKYAT"

Makassar - Humas : Sejarah perubahan nama ABRI menjadi TNI , pada masa Demokrasi Terpimpin hingga masa Orde Baru, TNI pernah digabungkan dengan POLRI dan disebut ABRI, sejak bergulirnya reformasi pemerintahan 1998, terjadi banyak perubahan yang cukup besar. Ditandai dengan jatuhnya pemerintahan orde baru yang kemudian digantikan oleh pemerintahan reformasi di bawah pimpinan presiden B.J Habibie di tengah maraknya berbagai tuntutan masyarakat dalam penuntasan reformasi. Lalu, muncul pada tuntutan agar Polri dipisahkan dari ABRI dengan harapan Polri menjadi lembaga yang professional dan mandiri, jauh dari intervensi pihak lain dalam penegakan hukum.

Sejak 5 Oktober 1998, muncul perdebatan di sekitar presiden yang menginginkan pemisahan Polri dan ABRI. Sementara dalam tubuh Polri sendiri sudah banyak bermunculan aspirasi-aspirasi yang serupa. Isyarat tersebut kemudian direalisasikan oleh Presiden B.J Habibie melalui instruksi Presiden No.2 tahun 1999 yang menyatakan bahwa Polri dipisahkan dari ABRI. Upacara pemisahan Polri dari ABRI dilakukan pada tanggal 1 april 1999 di lapangan upacara Mabes ABRI di Cilangkap, Jakarta Timur. Upacara pemisahan tersebut ditandai dengan penyerahan Panji Tribata Polri dari kepala staff umum ABRI Letjen TNI Sugiono kepada Sekjen Dephankam Letjen TNI Fachrul Razi kemudian diberikan kepada kapolri Jenderal Pol (purn) Roesmanhadi. Maka sejak tanggal 1 April, Polri ditempatkan di bawah Dephankam. Setahun kemudian, keluarlah TAP MPR No. VI/2000, kemandirian Polri berada di bawah Presiden secara langsung dan segera melakukan reformasi birokrasi menuju Polisi yang mandiri, bermanfaat dan professional

Pada HUT ke 73 TNI ini mengambil tema profesionalisme TNI untuk rakyat. TNI bersama komponen bangsa telah kerja bahu membahu. TNI berjuang sekuat tenaga untuk meringankan beban yang diderita warga terkena musibah bencana. Panglima TNI dalam amanat HUT TNI dilansir dari tni.mil.id menyampaikan, apa yang dilaksanakan di lokasi bencana, adalah sebagian dari bentuk profesionalisme TNI.

Tema singkat namun padat ini mengandung makna bahwa TNI yang senantiasa ditingkatkan profesionalismenya melalui berbagai pendidikan, latihan, persenjataan, alutsista serta dipenuhi kesejahteraannya oleh negara, adalah semata-mata untuk seluruh rakyat Indonesia.TNI selain menghadapi kompleksitas tantangan ke depan, juga harus menghadapi gejolak alam yang terjadi akhir-akhir ini.TNI sebagai satuan yang siaga di masa damai, harus membantu pemerintah menanggulangi bencana terjadi di berbagai daerah. Pada tahun 2018 ini TNI telah terlibat dalam penanggulangan bencana di berbagai daerah. Mulai dari kejadian luar biasa gizi buruk di Asmat Papua, letusan Gunung Agung di Bali, kebakaran hutan di Kalimantan dan SUmatera, gempa bumi di Lombok dan Palu.

sumber : tribunnews.com